Momen Lucu Bapak-bapak Pengungsi Aceh Terpaksa Kenakan Daster Bantuan.

KOMPAS.com – Di tengah situasi pascabanjir bandang dan longsor di Aceh, sebuah momen unik dan mengundang tawa muncul di salah satu posko pengungsian.

Ketika bantuan pakaian tiba, sebagian besar yang tersedia ternyata adalah daster dan kerudung.

Alih-alih mengeluh, para bapak-bapak justru menerimanya dengan santai. Mereka bahkan mengenakannya sambil bercanda, seolah mencoba menyisipkan tawa kecil di tengah keadaan yang serba sulit.

“Alhamdulillah bantuan kami terima. Tapi kebanyakan nih jilbab dengan baju daster, terpaksalah kami pakai. Terima kasih kepada saudaraku yang telah membantu kami orang Aceh,” ujar seorang pria dalam video yang beredar, seperti dikutip dari Antara, Selasa (9/12/2025).

Video tersebut terpantau telah beredar luas di berbagai media sosial, termasuk Instagram, TikTok, Threads, dan X.

Unggahan lain di TikTok juga memperlihatkan tumpukan pakaian bantuan yang sebagian besar berupa baju perempuan.

Kebutuhan mendesak di posko pengungsian.

Meski bantuan terus berdatangan, sejumlah kebutuhan mendesak di berbagai titik pengungsian dilaporkan belum terpenuhi.

Misalnya, Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, menyebut masih membutuhkan bahan pangan seperti minyak goreng dan ikan kemasan di 27 kecamatan di Aceh Utara.

Selain itu, pengungsi memerlukan kelambu, terpal untuk hunian sementara, pakaian, obat-obatan, susu, pembalut, dan celana dalam.

“Karena mereka hanya membawa pakaian di badan saat melarikan diri dari banjir,” kata Ismail, dilansir dari Kompas.com, Selasa (9/12/2025). Hal serupa disampaikan relawan di Aceh Tamiang, Budi Azhari.

Menurutnya, kebutuhan mendesak meliputi makanan pokok, obat-obatan, tenda, serta kelambu untuk mencegah serangan nyamuk.

“Jangan sampai selamat dari banjir, tidak selamat dari malaria. Saya ajak masyarakat Indonesia lainnya membantu korban bencana,” ujarnya.

Sementara itu, di posko Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, para pengungsi mengeluhkan minimnya pasokan makanan khusus balita.

Salah satu pengungsi, Juliandika, menyebut bubur bayi instan yang seharusnya menjadi makanan pendamping utama belum tersedia sama sekali.

“Cuma itu yang kurang. Belum ada sama sekali sampai sekarang,” terangnya.

Selain itu, pengungsi juga kesulitan mendapat air bersih.

Monalisa (26), pengungsi lainnya, mengatakan warga harus berjalan sekitar satu kilometer menuju SMPN 3 Matauli untuk bisa mandi atau buang air besar karena di lokasi itulah tersedia sumber air yang masih layak.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2025/12/09/213000565/momen-lucu-bapak-bapak-pengungsi-aceh-terpaksa-kenakan-daster-bantuan-.

Membership: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *